Wellcome 2015….
New year! New style!
Laki itu kutekan, ga cuma pakai akik.
#bye2014 #page365of365 (at head office aldrich universal group)

Iklan

Escape From the Extraordinary

Apa kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini yang syarat dengan bencana!? Setelah bencana banjir di Wasior, disusul dengan Jakarta yang tidak mau terkalahkan untuk rekor banjirnya. Kemudian berturut-turut tsunami di Mentawai dan erupsi merapi.

Sungguh sedih melihat negara ini terkena bencana terus menerus. Bukan lagi bencana banjir yang datang tiap musim hujan yang kita takutkan. Tapi banjir bencana yang sedang kita alami.

Sebagai orang yang tinggal di Jogja, melihat kota Jogja diselimuti debu sungguh menyedihkan. 😦

Saat itu banyak orang yang berada di kota Jogja bahkan juga kota2 sekitarnya tergerak hatinya untuk menjadi relawan menolong saudara2 kita yang terkena bencana dilereng Merapi. Semuanya bergerak untuk Indonesia, tidak hanya untuk merapi. Hashtag #prayforindonesia sempat menjadi trending topic di situs micro blogging twitter, bahkan sebelum televisi memberitakannya.

Walaupun sebagian besar teman2 ikut tergerak untuk menjadi relawan, aku pelan2 undur diri dari kegiatan itu. Benar2 seperti pengecut. :). Tapi beneran dech, permusuhanku dengan debu sudah dimulai sejak lama sebelum debu menyelimuti Jogja.

Pada hari itu, jum’at 5 november 2010 kondisi Jogja (bukan merapi) dalam keadaan yang paling buruk sejak merapi mengalami erupsi lagi. Kalau tadinya hujan abu itu tidak merata menutup kota Jogja, pada hari itu, dimulai dari kamis malam semua bagian kota Jogja mendapatkan jatah abu merapi. Bahkan hujan pasir juga.

Semua orang panik. Kondisi ini diperparah oleh pemberitaan media yang terlalu hiperbolistis. Para orang tua yang mempunyai putra putri yang kuliah di jogja memaksa mereka untuk pulang kampung sementara. Padahal sebenarnya kondisi tidak separah itu. Sekali lagi media sedikit banyak ikut andil dalam pembentukan kepanikan dan opini masyarakat ini.

Seorang teman yang sedang ada pekerjaan di Surabaya, baru sampai Surabaya pada kamis malam, jum’at  malam langsung pulang ke Jogja dengan menggunakan bis, bahkan ketika acara yang dihadirinya belum mulai. Semua penerbangan dari dan ke Jogja ditutup. Melihat pemberitaan di televisi benar-benar membuatnya panik akan anak istri nya yang berada dirumah. Padahal sebenarnya kondisi mereka yang dirumah baik-baik saja.

Ketika jum’at malam aku akan menyusul ke Surabaya untuk acara tersebut, aku dikagetkan dengan penuhnya stasiun Tugu pada jam 2 dini hari itu. Begitu kereta yang akan membawaku ke Surabaya datang, aku dikejutkan lagi oleh fakta bahwa sekitar 75% dari gerbong yang aku naiki berisi mahasiswa yang akan pulang ke kampung halaman mereka. Mereka (terutama orang tua mereka) takut akan kondisi Jogja. Padahal benar dech, Jogja tidak separah itu.

Jadi gemes sama pemberitaan media yang hiperbolis itu.

Haloooo…. Saya tinggal di Jogja dan saya baik2 saja. 🙂

Ada satu cerita juga yang rasanya pingin ngetawain tapi juga pingin memukul orang2 itu. Seorang teman dari temanku termakan isu sms berantai yag mengatakan bahwa letusan merapi akan mencapai radius 36 km. Dia dan keluarga baru sampai Kebumen ketika temanku menelepon dia. Kataya dia akan mengevakuasi diri ke Purwokerto. Ugh!

Kalau letusan merapi diperkirakan akan mencapai radius itu, kota Jogja dipastikan hanya tinggal nama, layaknya Atlantis (bagi yang percaya bahwa kota itu pernah ada). Dan aku melihat bahwa Sultan HB X yang gubernur  Jogja masih adem ayem tinggal dikediamannya bersama keluarga. Semua pejabat propinsi bahkan pihak terkait juga belum menginstruksikan bahwa seluruh warga Jogja harus mengevakuasi diri. Berarti kota Jogja masih aman. 🙂

Yang perlu dievakuasi itu warga lereng merapi. Dan jarak merapi sampai ringroad utara jogja saja sudah sejauh 30 km. Rasanya pingin jedot2in kepala ke tembok dan teriak2 ke mereka yang langsung memakan mentah2 berita media itu. Dan termakan isu lewat sms berantai dari pihak yang tidak bertanggungjawab.

Tapi kemudian aku ingat diriku  sendiri yang malam itu juga meninggalkan Jogja. Bagaimana aku mau teriak2 ke mereka bahwa kota Jogja aman dari extraordinary moment ini kalau aku sendiri seolah2 escape from the extraordinary!? Duh

Belajar Dari Cita-Cita Bunglon

Mengingat-ingat kembali memori lama pasti akan membuat senyum-senyum sendiri. Apalagi kalau menyangkut dosa-dosa kenakalan dimasa kecil. Dan menyangkut khayalan-khayalan tentang membayangkan diri sendiri menjadi dewasa. Menjadi penting dan semua yang mengikuti kedewasaan itu terlihat indah, misal salah satunya adalah pekerjaan yang keren. Nah, berhubungan dengan angan-angan saat dewasa nanti, pasti dong setiap orang mempunyai sedikitnya satu bidang pekerjaan maupun profesi yang kelak ingin dijalani. Dan pastinya juga tidak sedikit orang yang kelak ketika dewasa menjalani profesi dan bekerja tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan *daku juga iya kok*.

Nah, bagaimana dengan cita-cita yang sering berganti-ganti!? Daku mengalaminya. Apakah kamu juga!? ^0^

Tenang aja, ga usah malu, kan saat itu masih kecil. Kebanyakan anak-anak mempunyai cita-cita karena pengaruh dari orang tua. Misalnya selalu dibilang sama orang tua: “kalau udah besar nanti pinter ya, biar jadi dokter”. Nah akhirnya ketika ditanya mau jadi apa kalau udah gede!? Jawabannya pasti dokter! ^&^ *pengakuan pribadi*

Tentang cita-cita yang berganti-ganti, ini dia ada beberapa daftar dosa-dosa cita-cita daku *karena tidak ada satu pun yang dipenuhi*:

#Jaman SD

Waktu jaman SD dulu, pas ditanya sama bu guru tentang cita-cita nanti kalau sudah besar mau menjadi apa, dengan bangga daku menjawab: PRAMUGARI! Dan bu guru yang sampai sekarang masih ku ingat namanya itu -Bu Herlina- saat itu hanya menjawab dengan senyuman yang manis sekali. Entah karena cita-citaku yang memang bagus atau karena kenyataan bahwa daku siswa terpendek dikelas -kelak ketika SMP dan SMA daku juga masih siswa terpendek satu sekolahan malah, tapi tidak saat kuliah, karena daku sudah tumbuh. Hehe- dan bercita-cita berprofesi yang menuntut minimal tinggi badan itu. ^0^

Tapi sumpah, saat itu daku tidak pernah memikirkan kalau menjadi pramugari membutuhkan minimal tinggi badan sekian dan bla bla bla… Yang kepikiran diotak cuma bisa terbang kesana kemari gratis, bisa mengunjungi berbagai daerah dalam dan luar negeri gratis, bisa melayani dan membantu penumpang *pekerjaan yang mulia*, dan dibayar pula. ^0^

#Jaman SMP *atau saat itu namanya SLTP-Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama*

Tidak pernah membayangkan akan menjadi apa saat besar nanti. Tapi karena ada pelajaran kesenian, yang nanti pas ujian akhir sekolah -saat itu namanya EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir)- harus menampilkan salah satu bentuk seni, baik seni peran, musik, tari, nyanyi atau apapun, pokoknya berhubungan dengan seni yang selain air seni. Mengingat saat itu teman-teman banyak yang memilih untuk membentuk kelompok karawitan dan daku tidak bisa memainkan salah satupun dari berbagai jenis alat musik itu, akhirnya daku berhasil tersisih dari banyak kandidat untuk menjadi anggota kelompok. -∩-. Jelas tidak mungkin kalau menyanyi mengingat kapasitas daku dari berbagai jenis penyanyi tingkat kamar mandipun berada paling bawah, apalagi seni peran karena tidak ada satupun dari teman-teman yang mau diajak bermain drama. Eh iya, ada satu yang bermain seni peran, itu pun pantomim. Dan tidak pernah membayangkan daku bisa bermake-up seputih kapur dan berbibir merah ala Nycta Gina Jengkelin  walaupun lebih rapi sedikit itu.

Akhirnya daku memilih seni tari, dengan tiga teman lain. Belajar tari setiap minggu selama tiga kali. Waktu penilaian, kelompok daku menarikan tari Golek Sri Redjeki, pernah dengar tari itu ga!? Kalau kesalahan dua atau lebih gerakan selama tarian yang durasinya kira-kira 13 menit lebih sekian itu dibilang wajar, berarti bisa dibilang kami sukses. Dan terimakasih Tuhan, satu-satunya kesalahan gerakan yang paling terlihat, daku yang melakukan!!!! Iya, daku!!! *blushing*. Harusnya pada macak gulu sambil gerakin badan atas -hanya badan, tidak geser- kekanan, tapi daku kekiri. Terbawa suasana seru saat-saat latihan dan kebahagiaan ketika berhasil melakukan satu gerakan baru yang sulit, akhirnya sempat terpikir untuk menekuni dunia tari atau jadi penari, apalagi setelah melihat bahwa guru les tariku adalah laki-laki dan sangat bersemangat, masa daku yang cewek kalah sich?

Dan daku yang pas kelas satu SMP ini sempat bolos gara-gara ada penilaian nyanyi mocopat dan nangis dikelas gara-gara tidak bisa menulis aksara jawa sama sekali ketika ulangan dan ujian, pingin jadi guru bahasa jawa hanya karena ketika kelas tiga sudah bisa mendapatkan nilai 9, Sembilan!!! ketika ulangan menulis honocoroko itu, dan bisa berpidato dengan bahasa jawa dengan nilai bagus. *lonjak-lonjak*. Note: SD daku di Riau, jadi tidak ada pelajaran bahasa jawa, yang ada pelajaran MULOK singkatan dari muatan lokal -keren ya namanya-, yang diisi dengan pelajaran Arab Melayu –menulis dengan huruf hijaiyyah dan tanpa tanda baca-.

#Jaman SMA *Tepatnya SMU-Sekolah Menengah Umum*

Ini adalah masa-masa tersulit dalam hidup daku untuk memilih satu hal dan terus mempertahankan hal tersebut. Setidaknya terdapat lebih dari empat atau lima kali berubah cita-cita. *eh!?*

Pertama kali mengenal bahwa awan-awan dengan berbagai bentuk aneh-aneh itu ternyata mempunyai nama sendiri-sendiri dan ketinggian berbeda-beda dari pelajaran geografi. Nama gurunya adalah Bu Lies -lengkapnya lupa, tapi itu nama artisnya- J. Karena si Bu Lies ini menerangkan pelajaran dengan asyik, akhirnya daku tertarik untuk suatu saat menjadi ahli cuaca, atau bekerja di BMKG dan sejenisnya. Tapi daku juga mendapati bahwa pelajaran kimia adalah pelajaran baru yang menarik. Juga dengan akuntansi, dengan pelajaran menjurnal debit dan kredit. Keren!!! Kok bisa ya kiri dan kanan balance. Bagaimana kalau tidak balance? Kata guru akuntansi -Pak Mayar-, berarti salah!!

Naik kekelas dua, daku mendapati pelajaran fisika ternyata menjadi seru. Saat itu diterangkan tentang galaksi dan bintang-bintang, juga di puterin film atau tepatnya simulasi mungkin ya, tentang proses terjadinya galaksi dan bintang-bintang di laboratorium fisika. Berubah lagi jadi pingin menjadi astronot. Bahkan sampai mencari dan membaca berbagai macam buku yang berhubungan dengan luar angkasa. Pelajaran kimia juga makin menarik karena hampir setiap seminggu sekali melakukan praktik di laboratorium kimia, dengan memakai jas labaratorium berwarna putih selayaknya dokter, keren sekali saat itu menurut daku. Pokoknya keren! Walaupun tujuan memakai jas lab itu adalah menghindari agar berbagai zat-zat yang berbahaya tidak langsung menodai dan mengenai bahkan membakar seragam putih kita yang sangat kita banggakan itu. Jadi ingat kejadian saat di laboratorium dengan percobaan memakai sulfur bubuk yang harus dibakar diatas sendok. Kata guru -Bu Aisyah-, jangan dihirup, dan guru selalu mengulang-ulang bagaimana cara membakar bahan percobaan dengan benar. Tapi karena penasaran, daku menghirup dikit, dan sukses dengan pusing sepanjang hari. ^0^

Dan ada Pak Warsito, guru sejarah yang menerangkan tentang jaman renaisance dengan cara yang membuat daku bisa membayangkan hidup di jaman itu. Bayangkan, daku yang sebelumnya selalu mendapat nilai buruk untuk mata pelajaran kualitatif ini bisa mendapatkan nilai yang sangat baik -untuk ukuran daku-. Jadi ahli sejarah ah…. ^0^

Senior Class di SMA, daku berhasil dijuruskan ke jurusan IPA. Dan IPA 1 yang konon katanya kelas pertama itu selalu berisi anak-anak yang pintar. Yipiii!!! Terimakasih Tuhan, semoga guru BK -Bimbingan Konseling- itu tidak salah ketika memasukkan daku ke kelas anak-anak pintar ini. J Dan semoga ketularan pinternya. Ah, ternyata tak se-horor itu masuk ke jurusan IPA. Hanya pada UAS -jaman daku pertama kali diperkenalkan UAS dan UAN dengan nilai minimum untuk beberapa mata pelajaran dan rata-rata minimum yang ditetapkan-, daku membuat kesalahan pada ujian praktik fisika. Daku sendiri lupa judul ujiannya apa -ujiannya individual-, tapi menggunakan batu baterai dan sialnya batu baterai daku sudah hampir habis digunakan oleh kelas lain dan kelompok lain yang ujian sebelum daku. Dan daku menjadi last minute student yang selesai mengerjakannya karena lampu yang disambungkan tidak kunjung hidup karena baterai yang sudah tidak berdaya itu, dan baru daku ketahui setelah pinjem baterai dari teman yang judul ujiannya lain dan mempunyai kelebihan baterai.

Dan ini kesalahan yang sampai sekarang masih menjadi rahasia daku seorang diri -dan sekarang menjadi rahasia kita ya?- ketika ujian kimia. Judul ujian yang daku dapet dari undian adalah TITRASI ASAM BASA. Sepertinya judulnya keren. Ujiannya berhasil dengan cemerlang, tapi ketika sudah selesai dan tinggal membereskannya, daku lupa tidak melihat label yang tertempel di wadah zat-zat tersebut. Satu botol besar asam (HCl) sukses daku rusak dengan menetesinya dengan basa (NaOH) sisa titrasi yang ada di alat titrasi. *forgive me Bu Bathi -∩-*

Tapi cita-cita daku setelah di kelas 3 IPA makin bertambah banyak: cita-cita terbesar ingin jadi astronot- yang saat itu daku sudah tahu kalau sangat tidak mungkin-, kemudian pilihan kedua adalah menjadi ahli nuklir. Nah lo… Ketika daku mengikuti UM-UGM, dengan banyak alasan dan pertimbangan akhirnya daku tertarik untuk jadi ahli gizi dan kesehatan karena tidak tahu bagaimana caranya untuk menjadi seorang ahli nuklir. Tapi ketika daku mengisi formulir untuk ujian tersebut, kenapa pilihan pertama daku adalah budidaya perikanan!? Dan Gizi dan kesehatan jadi pilihan kedua. Dan daku suskses menjadi calon peternak ikan yang akhirnya daku abaikan. ^0^

#Jaman Jadi Remaja bahagia -Baru Saja Lulus SMA dan Menunggu Diterima Jadi Mahasiswa Baru-

Tidak tahu kenapa daku tidak tertarik untuk mengikuti SPMB lagi, walaupun sudah mengembalikan formulir. Mungkin karena ayah daku sudah pulang kembali ke pelosok sana dan tidak ditungguin lagi. Sehingga pada hari pertama SPMB itu daku ke Jogja juga, dengan minta ditemenin sama teman daku -Elna- buat daftar di kampus D3 Akuntansi, karena dia juga sudah daftar dan diterima disana. J Dan jadilah daku mahasiswa akuntansi. Berharap bisa menjadi seorang akuntan suatu hari nanti.

Tahun pertama kuliah ambisi untuk jadi ahli kelautan yang pernah terlintas ketika SMA masih belum pupus. Ingin mengikuti SPMB lagi untuk mempelajari ilmu kelautan hanya karena tertarik pelajaran divingnya. Dan sampai sekarang keinginan untuk bisa diving itu masih ada. Masih punya keinginan untuk mengambil sertifikat diving suatu saat nanti. Ô0Ô

#Jaman Lulus D3 sampai sekarang

Begitu banyaknya keinginan akan sebuah pekerjaan dimasa depan, dan akhirnya hanya terdampar pada bidang akuntansi. Setelah 2 tahun kuliah di akuntansi AA YKPN dan lulus dengan gemilang J, 2 tahun lagi ketika kuliah di akuntansi lagi untuk melanjutkan S1 di UGM yang tidak diselesaikan, dan setahun terakhir ketika pindah kuliah di akuntansi lagi -STIE YKPN-, akhirnya bosan dengan akuntansi yang dulu daku anggap menarik ketika kelas satu SMA. Setelah mengenal dunia kerja dan berhubungan dengan berbagai macam angka, akhirnya daku sekarang lebih tertarik pada bidang manajemen. Pelajaran kualitatif yang dulu selalu daku benci. Dan cita-cita terakhir yang melintas sampai saat ini adalah menjadi enterpreneur suatu hari nanti.

Kalau didaftar mungkin lebih banyak lagi pekerjaan ataupun profesi yang pernah daku ingin tekuni, diantaranya jadi apoteker, dan pernah berniat masuk SMF sewaktu lulus SMP.

Dan begitulah daftar panjang cita-cita daku yang selalu berubah itu. Dan sepertinya cita-cita yang paling konyol dan paling tidak mungkin dalam keadaan apapun dulu maupun sekarang adalah menjadi pramugari, astronot dan ahli nuklir. Tapi daku tidak malu mengakui bahwa daku adalah bunglon dalam hal cita-cita. Karena dari banyak keinginan yang selalu berubah itu, paling tidak daku pernah mempelajari banyak tentang profesi yang pernah daku impikan itu. ^0^

So… Apa saja hal-hal y ang pernah menjadi cita-citamu? Jangan malu mengakuinya *biar daku punya teman *__*