impian itu…… MASIHKAH SEINDAH YANG KUHARAPKAN

Dulu…..

Ketika aku kecil, aku selalu membayangkan betapa enaknya menjadi orang dewasa. Tidak harus selalu dimarahi orang tua ketika kau berbuat salah. Tidak harus selalu tidur pada jam 9 malam. Tidak harus selalu dipaksa untuk belajar-mengerjakan PR, tidak harus selalu dipanggil untuk pulang ketika kau sedang bermain. Dan bisa berbuat menurut kehendakmu sendiri, bisa mengambil keputusan sendiri, memilih mana yang akan dan tidak akan kau lakukan. Bayangan masa kecil yang indah tentang menjadi remaja dan kemudian dewasa.

Remaja….

Menurut sebagian orang adalah masa yang indah. Tapi tidak ketika kau hidup jauh dari orang tuamu. Ikut saudara dengan karakter keras. Menjadi bagian dari lingkungan dengan semua para ibu yang ada mempunyai pekerjaan utama bergosip, sementara yang kau ikuti dan kau tinggali bekerja seharian dan menjadi bahan gosip itu sendiri.

Pernahkah sewaktu kecil kau membayangkan akan menjalani masa remajamu yang indah? Bersosialisasi dan bermain dengan teman sebayamu? Pasti pernah. Mungkinkah semua itu terwujud ketika rumah tempatmu tinggal berisi tiga anak kecil yang harus diasuh?

Sekolah dan mengisi hari libur dengan mengasuh ketiga adik sepupumu adalah masa remaja yang takkan pernah kau mau lakukan. Bahkan belanja kebutuhan yang membuatmu merasa menjadi remaja dan diterima di kelompokmupun menjadi hal yang berdosa jika kau lakukan. Bukan uang yang dipermasalahkan. Tapi begitulah jika kau tinggal dengan saudaramu. Selalu saja ada hal yang menurut mereka salah jika kau melakukannya.

Walaupun kau tahu bahwa mereka menyayangimu, tapi tetap saja ada hal-hal yang menurutmu akan wajar kau lakukan jika kau remaja, dan mereka menganggapmu salah. Bisakah kau bayangkan?

kau pasti akan berharap cepat tumbuh dan menjadi dewasa. Bisa mengambil keputusanmu sendiri.

Ketika kau beranjak dari remaja menjadi dewasa, kau pasti mulai berpikir akan menjadi apa aku nanti. Ketika kau mulai bisa dan dipercaya mengambil keputusanmu sendiri dan hidup mandiri *dalam arti bukan mandiri seutuhnya, karena kau masih tetap butuh bantuan finansial dari orang tuamu*, kau akan mulai berpikir tentang banyak hal.

Kau akan memikirkan bahwa hidup tak seharusnya bergantung pada orangtuamu selamanya. Bahwa kau tetap membutuhkan bantuan dan dukungan orangtuamu dalam satu dan lain hal. Dan bahwa apa yang mereka berikan selama ini cukup untuk menjadi modalmu nanti, tetapi tidak dalam hal finansial. Karena kau mulai mengerti bahwa hidup tak lebih dari sekedar bertahan dari apa yang akan menghadapimu kelak. Kau mulai mengerti apa artinya berjuang agar kau tetap bisa hidup.

Pernahkah juga terpikir olehmu bahwa saat itu finansial menjadi terlalu berharga untuk kau sia-siakan? Dan membayangkan seandainya kau benar-benar bisa mandiri dalam hal finansial sekalipun? Ah ya! Aku ragu kau tidak pernah memikirkannya.

Saatnya kau kini datang ke dunia nyata, begitulah orang bilang. Ketika kau cukup mempunyai bekal untuk mengarungi perahumu sendiri. Dan dukungan yang kau punya tak lebih dari sekedar nasihat orangtuamu.

Ada saatnya ketika kau harus berkomitmen pada dirimu sendiri bahwa kau bisa dan membuktikan ke orangtuamu bahwa kau benar-benar siap menakhodai kapalmu sendiri. Tentu mereka masih menganggapmu anak kecil, dan tak henti-hentinya memperlakukanmu seperti sebelumnya. Tapi begitulah. Pembuktianmu harus segera kau wujudkan.

Dan inilah dunia yang sejak kecil kau impikan. Menjadi dewasa dan memegang kendali atas dirimu sendiri. Bahkan ketika itupun kau masih ragu. Ketika finansial tidak lagi menjadi masalah, ketika semua yang kau inginkan terpenuhi. Ah, benarkah semua yang kau impikan terpenuhi?

Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi padamu, tapi inilah yang terjadi padaku saat ini.

Ketika harapanmu menjadi orang dewasa telah tiba saatnya. Ketika kemandirian yang kau harapkan telah ada padamu. Bahkan untuk finansial sekalipun bukan masalah terbesarmu-walaupun tidak bisa dibilang telah tercukupkan seluruhnya. Tapi pernahkah kau merasakan sama sepertiku? Kosong dan tak tahu harus kemana melangkah?

Mungkin kau tahu, beberapa diantaramu juga berpikir bahwa seorang wanita diusiaku akan mulai memikirkan masa depan, pernikahan.

Ah ya… Aku sudah memikirkannya. Dan itu bukanlah suatu hal yang menyebabkan kekosonganku. Tanpa bermaksud menyombong, kalau kau berada pada posisiku, kau bisa menikah kapan saja kau mau. Secara teknis semuanya telah siap. Hanya tinggal keputusan kapan darimu saja yang kau butuhkan.

Aku tak mengharapkan kau paham maksudku. Tapi inilah yang aku rasakan. Hampa dan kosong saat semua yang kau inginkan dan kau harapkan telah kau miliki. Mungkinkah karena kau kurang bersyukur? Bisa jadi demikian.

Sebagian besar kau mungkin berpikir bahwa hal terbaik yang kau akan dapatkan adalah ketika kau punya dukungan finansial yang memadai. Ah… Tapi tidak demikian menurutku saat ini. Finansial bukan lagi hal utama ketika kau telah mempunyainya, walaupun finansial yang kau capai belum bisa mengcover seluruh yang kau ingin. Tapi bukankah demikian hakikatnya? Manusia tak kan pernah merasa cukup.

Ada istilah berikut:

uang memang bukan segalanya

tapi segalanya butuh uang.

Setujukah kau?


Ada juga yang mengatakan:

Omong kosong kalau orang mengatakan bahwa cinta tidak dapat dibeli dengan uang. Mereka hanya tidak tahu dimana mereka dapat membelinya.


Oke. Aku tak bermaksud membuatmu bingung. Dan aku tak mengharap kau mengerti maksudku. Ini hanyalah sebuah ungkapan dari yang kurasakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s